Menjadi hamba-Nya yang pantas...

0 komentar
Kehidupan di dunia hanyalah awal dari sebuah perjalanan seseorang sedangkan sisa perjalanannya menjadi tanah di dalam kubur dan akhir perjalanannya berdiri di hadapan Rabb-nya. Inilah sebuah perjalanan menuju Allah dan kampung akhirat. Perjalanan ini sekali-kali tidak akan berhenti selain di surga atau neraka.

Pernahkah kita sadari ? Harta dan kekayaan yang dititipkan Allah kepada kita, anak-anak penyejuk hati yang diamanahkan Allah untuk menjaganya, yang itu semua bagian kecintaan kita di dunia. Setiap hari itu semua kian menjauhi kita. Waktu terus berjalan, usia kian bertambah, kenyataannya meninggalkan kita, tanpa bisa kita memanggil kembali.

Alam akhirat yang tidak mampu kita bayangkan, kematian yang tidak tahu pasti kapan datangnya, kenyataannya setiap hari menghampiri dan mendekati kita, tanpa bisa kita tolak.

Maka, merugi mereka yang tidak mempersiapkan diri. Merugi mereka yang dianugerahi harta dan anak-anak, namun tidak mengantarkannya kepada kehidupan yang hakiki, kebahagiaan yang abadi dan negeri yang kekal abadi. Merugi jika itu semua tidak mendatangkan keselamatan dan ketentraman.

Bila memikirkan itu semua, kalau bukan karena rahmat Allah, kemurahan Allah, dan pengampunan-Nya, kita tidaklah layak menjadi ahli surga-Nya. Karna rahmat dan ampunan Allah-lah yang menjadikan hidup kita menjadi bermakna. Dan Allah menyediakan tempat untuk kita di surga-Nya. Semoga Allah meridloi amal ibadah kita. Amin

Nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan

0 komentar
Aku pernah merasa terganggu dengan pendengaran kiriku yang bermasalah. Padahal aku sudah ada janji untuk menyampaikan materi pembekalan di sebuah ponpes Islam di Lamongan. Dunia benar-benar terasa sepi ketika itu. Aku tidak sanggup membayangkan alangkan tidak-nyamannya para penderita tuna rungu. Aku baru menyadari, betapa mahalnya nikmat Allah. So, nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan? Kalimat itu terus menerus mengiang di kupingku yang mulai berkurang kesadaran… eh, pendengaran. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku memenuhi janji untuk menyampaikan materi dengan pendengaran yang bermasalah. Tidak lupa, aku minta permakluman para peserta, kalo-kalo aku berbicara terlalu keras atau ga peduli kalo-kalo ada interupsi peserta di sela-sela acara, tetapi diabaikan. Maklum agak budi. He..he.. Terngiang lagi peringatan Rasulullah saw, “ada 2 kenikmatan yang kebanyakan manusia dibuatnya terpedaya (lalai), yakni nikmat sehat dan kesempatan.”

Masih soal sakit kupingku, aku merasa ada air yang tertahan di dalam kupingku. Atas saran seorang teman, aku coba mengeluarkannya dengan air pancingan dari luar, tetapi tidak juga beres. Aku coba membersihkanya dengan cotton bud, bukannya membaik malahan terasa sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Dokter mengatakan, tidak ada air di kupingku. Mungkin karna perlakuan yang salah terjadi infeksi ringan di telinga. Lantas dokter memberikan sejumlah obat untuk diminum. Dan alhamdulillah beberapa hari kemudian membaik dan sembuh total.

Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian itu adalah, boleh jadi kita merasa bahwa hidup itu sebaiknya begini atau begini. Dengan segala teori yang menurut akal manusia seolah itu baik. Padahal boleh jadi tidak bagi Allah. Karna pengetahuan manusia seluruhnya tidak lebih dari setetes air yang ditumpahkan telunjuk tangan di hamparan samodera tanpa batas. Maka kemudian Allah membimbing manusia melalui rosul-Nya dengan kitabullah, Al-Qur’an al kariim sebagai pedoman hidup. Maka jika manusia hendak menggantinya dengan yang laen dapat dipastikan hidupnya tidak akan bahagia. Segala persoalan yang mendera keluarga, permasalahan yang melilit sebuah bangsa boleh jadi dapat dipastikan dikarenakan keluarga atau masyarakat atau bangsa tersebut terlalu berani memalingkan dirinya dari al-Quran. Sebagiannya atau keseluruhannya. Tidak ada beda.

Jadi, kalo ga tahu, kenapa ga nanya kepada ahlinya?

Cinta dan benci, motivasi untuk aksi

0 komentar

Setiap orang tidak bisa mengingkari keinginan tersembunyinya untuk mendapatkan manfaat dan menghindari madharat. Rasa cinta dan benci menjadi motivasi terbesar dirinya untuk berbuat sesuatu atau menolak melakukannya. Dan itu menjadi landasan atas kemauan dan keinginannya.

Ada pepatah mengatakan, manusia itu menjadi musuh atas kebodohannya. Manusia melakukan sesuatu atas dasar ilmu yang dimilikinya atau apa-apa yang diketahuinya. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka semakin banyak pilihan aktivitas hidup yang bisa dilakukannya.

Seorang pecinta bola tetapi dia bukan ahli ibadah, dia akan memilih nonton bola dini hari daripada untuk menegakkan sholat, tahajjud dan taqarrub pada-Nya.

Seseorang yang tidak mampu menghafal sekedar satu ayat AlQuran, sudah pastilah dia mampu menghafal yang lain. Bahkan boleh jadi fasih melafalkan lyrics lebih dari satu judul lagu.

Seseorang yang tidak menggunakan sela-sela harinya untuk membaca Al Quran, sudah pastilah dia akan membaca yang lain. Koran misalnya. Waktu telah dihibahkan, bagaimana Anda menginvestasikannya?

Menjadi Hamba Allah...

0 komentar

Manusia adalah hamba Allah, diciptakannya langit, bumi, para malaikat, manusia, siang dan malam, timbangan amal, shirat (titian), surga dan neraka oleh Allah adalah demi tegak dan terwujudnya tujuan ini : menghambakan manusia kepada Tuhannya. Alam ini tidak diciptakan Allah dengan percuma.

“Dan tidaklah Aku menciptakan langit dan bumi serta segala yang berada diantara keduanya sebagai main-main.” (Al Anbiya : 16)

Demikian juga manusia dan jin tidaklah diciptakan sia-sia.

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami.” (Al Mukminun : 115)

Tidaklah mereka diciptakan tanpa maksud, hikmah dan sesuatu yang dituntut dari mereka.

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Sesungguhnya manusia itu sudah tabiatnya harus menjadi hamba, baik ia suka atau enggan. Ini adalah tabiat yang mendasar dan berakar dalam dirinya, yang tdak mampu dirubahnya. Ia harus memiliki ketundukan, kecintaan, ketakutan dan harapan yang merupakan pengabdian. Maka seluruh jenis ibadah ini harus ditujukan kepada Allah. Kalau tidak kepada Allah, tentu diarahkan kepada selain Allah dan akan diarahkan kepada Tuhan ‘batil’.

Islam mengembalikan manusia yang melarikan diri dari agama lurus ini kepada fitrah yang dijadikan oleh Allah sebagai watak dasar jiwanya, kembali kepada jalannya yang benar. Mengembalikan manusia untuk beribadah kepada Tuhan mereka dalam akidah, syiar-syiar, moralitas, pergaulan, tata hukum serta adat-istiadat mereka.

Manusia wajib mengerti dan menyadari hakekat ini, yaitu sesungguhnya jika mereka lari dari Allah Ta’ala dan dari pengabdian kepada-Nya, maka akan terjerumus ke dalam pengabdian yang nista dan hina, kepada tuhan-tuhan yang tidak mampu memberi manfaat atau mencegah datangnya kerugian. Ini adalah salah satu hukum alam, yang tidak akan dapat dihapuskan oleh seorang manusia, tidak dapat dikoyakkan oleh satu umatpun. Setiap orang yang menyombongkan diri dan tidak mau beribadah kepada Allah akan terjerumus, tidak dapat tidak ke dalam peribadatan kepada selain-Nya. Naudzubillah

Manusia itu Fakir

0 komentar

“Dan Allah maha kaya, sedangkan kalian adalah orang-orang fakir”. (Muhammad: 38)

Kebutuhan dan kefakiran adalah sifat dasar yang melekat pada diri manusia. Karena mereka fakir dan membutuhkan, maka mereka berbuat baik satu sama lain, sebab masing-masing membutuhkan dan mengambil manfaat dari perbuatan tersebut. Tidak bisa dipungkiri, Manusia punya kecenderungan egois, mementingkan diri sendiri dan memiliki pamrih. Ga sepi dari pamrih. Tidak satu perbuatanpun yang dilakukan tanpa adanya tendensi.

Seandainya seseorang tidak membayangkan adanya manfaat, niscaya ia tidak berbuat baik kepada orang lain. Karna pada hakekatnya ia hanya ingin berbuat baik untuk dirinya sendiri. Perbuatan baiknya kepada orang lain hanyalah sarana baginya untuk memperoleh manfaat untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini ada 3 alasan utama seseorang melakukan sesuatu :

Manusia berbuat baik kepada orang lain karena mengharapkan balasan, yang berarti ia membutuhkan balasan atau imbalan atas perbuatan baiknya. Baik itu materi atau pemuasan hasrat duniawinya yang terpenuhi dengan menggunakan orang lain.

Klo tokh bukan karna tendensi itu, bisa jadi ia menginginkan pujian, sanjungan, penghargaan dan rasa terima kasih atas kebaikannya. Untuk memenangkan piala atau predikat tertentu yang terbaik dan ter yang lain misalnya.

Sisi terbaiknya adalah, jika ia berbuat baik untuk mendapatkan balasan dari Allah swt di akhirat. Hanya saja ia menunda pengambilan balasan itu hingga suatu hari ia membutuhkannya. Dengan tujuan ini tidak menjadikannya tercela. Karena dia fakir yang membutuhkan. Dan inilah sebaik-baik motivasi untuk melakukan ato menolak sesuatu. Wallahu’alam

Ramadhan sebentar lagi, hiasi hati dan perbaiki diri. Semoga lebur dosa-dosa sepanjang hari. Tuk meraih ridlo Ilahi. Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan… berkahilah kami di bulanmu yang suci. Amiin

Tinggalkan mereka yang lalai

0 komentar

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan dien mereka senda gurau dan main-main. Mereka terpedaya kehidupan dunia.”

Berapa lama kita duduk bersama orang-orang lalai ? Membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan bagi dunianya. Waktu berlalu menguap tanpa makna. Setan mengunci dan menjamu mereka di kamar kelalaian. Memperdaya mereka dengan alunan musik ghibah, kelakar dosa, dan pemandangan angan tak berujung. Seolah hidup mereka masih seribu tahun lagi. Mereka lelap, ketika mata mereka terjaga. Bagaimana halnya dengan tidurnya?

” Katakanlah, “ALLAH”. Kemudian biarkan mereka bermain-main dengan kesesatannya.” (Al-An’am : 91)

Berapa lama kita duduk tafakur, berdzikir dan bertasbih menikmati lezatnya munajat pada-Nya ? Robb yang ketika kita menengadahkan tangan dan memohon pada-Nya, Dia memuji dan memuliakannya. Memberi tanpa meminta kembaliannya. Mengeluarkan kita dari kesulitan, ketika tidak seorangpun mau mengulurkan tangan membantunya.

Biasakanlah untuk bertasbih dan berdzikir padanya, hingga benar-benar terbiasa. Lakukan terus menerus dengan keikhlasan hingga itu menjadi kebiasaan. Karna bersamamu ada Robb yang maha tinggi. Jika kita memohon ampunan pada-Nya, Dia akan mengampuni. Jika kita memohon pada-Nya, Dia akan memberi.

Kita tidak pernah bisa merubah atau memutar jarum sejarah, namun Allah selalu memberikan kesempatan untuk menukarnya dengan kehidupan yang lebih baik. Sesal kemudian tiada berguna, tetapi harapan di masa depan selalu ada.

Bersabar Mengenal Pasangan

0 komentar

Berapa lama kita harus mengenali calon pasangan kita, sampai kemudian kita memutuskan untuk memilih dia mendampingi hidup kita di sisa usia kita. Adakah orang yang memilih jalur pacaran untuk mengenali pasangannya, dia benar-benar telah mengenali pasangannya ketika mereka memutuskan menikah. Atau justru mereka kecewa ketika pasangannya ternyata tidak sebagaimana yang terlihat kala mereka masih berpacaran. Atau pertanyaannya adakah mereka yang telah ditakdirkan Allah hidup bersanding sebagai pasutri selama bertahun-tahun telah benar-benar mengenal pasangannya? Di kala tidak ada yang tersembunyi karna tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Suatu ketika ada seorang ummahat yang mengeluh kepada istri Ust. Mohammad Fauzil Adzim bahwa sekalipun telah dikarunia 2 orang anak, dia sama sekali merasa belum benar-benar mengenal suaminya. (diceritakan dalam buku Saatnya untuk menikah). Menarik sekali saran beliau, “Berusahalah untuk mengenal pasanganmu secara terus menerus. Jangan pernah merasa sudah mengenal, padahal masih banyak yang belum kamu ketahui tentang pasanganmu”.

Kita dan pasangan kita memiliki sejarah hidup yang berbada, pengalaman hidup yang berbeda dan penghayatan hidup yang berbeda pula atas setiap peristiwa sekalipun untuk peristiwa yang sama. Karena itu, kita tidak bisa mengenalnya kecuali melalui pergaulan yang betul-betul dekat selama bertahun-tahun dan itu hanya bisa dilakukan melalui pernikahan. Bersikap apa adanya, mengetahui apa adanya dan tidak ada ruang untuk berpura-pura kecuali jika karakternya memang demikian.

Seseorang yang telah ditakdirkan Allah berpasangan melalui sebuah ikatan yang benar-benar suci, yakinlah di balik kekurangan dan kelebihan masing-masing, Allah telah menyiapkan pahala untuk keduanya. Ketika keduanya mengikat janji suci semata-mata untuk mengharapkan ridlo Allah. Yakinlah seberapapun persoalan membelit keduanya, Allah akan memudahkannya.

“Maka apabila telah memiliki azzam yang kuat, selanjunya bertawakallah kepada Allah.” (Al-Imron: 159).