Karena istri ingin dimengerti dan Suami ingin dihargai

0 komentar

Memang sudah jadi tabiatnya, suami maunya dihargai dan istri maunya dimengerti. Menjadi tidak sehat jika tuntutannya terlalu berlebihan, suami yang terlalu ingin dihargai (gila penghargaan) atau istri yang terlalu ingin dimengerti (maunya dilayani terus). Yang terjadi kemudian, hal-hal kecil dianggap besar, sedangkan hal-hal besar justru menjadi luput mendapatkan porsi perhatian. Meja kerja yang sedikit acak-acakan atau salah meletakkan toples, saja bisa jadi masalah, tetapi suami yang kerjaannya nonton tv saja malah dibiarkan. Masakan istri yang tidak enak disoalkan atau istri yang lupa menyiapkan baju kerja membuat suami marah besar, tetapi istri yang tidak cermat menutup aurat atau istri yang menunda-nunda waktu sholat malah dibiarkan. Bisa jadi, dari hal-hal seperti inilah konflik rumah tangga bermula atau bahkan inilah salah satu bentuk konfliknya. Yang pasti, setiap pelanggaran terhadap syariat Allah sekecil apapun pasti mengundang konsekuensi. Dan jika ini tidak disadari akan berkelindan menjadi konflik suami istri yang berkepanjangan.

Ada yang namanya dinding tak kasat mata berupa komunikasi. Tidak sedikit pasutri yang tidak punya keberanian membicarakan permasalahan atau percekcokan mereka. Yang ada, mendiamkan satu sama lain sampai mereda kemudian seolah tidak ada masalah diantara mereka. Ibarat api dalam sekam, setiap saat bisa meledak jika disulut. Sehingga dosa-dosa dan kesalahan masing masing yang sebelumnya tidak terungkap, meledak menjadi sebuah kesimpulan : ‘suamiku tidak mengerti aku’ dan ‘istriku tidak menghargai aku’. Bahkan lebih dahsyat dari itu, ‘suamiku buruk sekali’ atau ‘istriku jelek sekali’, dst. Naudzubillah.

Ya, bahwa sebuah hubungan itu berproses. Namun proses itu bagaimanapun harus dijalani, karena proses itu terdiri dari kumpulan hari, jam, menit bahkan detik. Sekecil apapun sesulit apapun pasti bisa dicarikan jalan keluarnya. Dan menjadi jauh lebih mudah, jika menikmati proses itu setiap menitnya. Dibicarakan sejak awal, diselesaikan sejak dini, sehingga tidak ada satupun konflik yang tidak terpecahkan. Karena jauh lebih mudah memindahkan batu kerkil daripada sebuah gunung.

” Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk kelakuannya.”

Alangkah eloknya hidup ini, jika kita tidak hanya bisa menjalaninya, tetapi juga menikmati setiap detiknya. Sehingga ketika di akhirat nanti kita mendapati satu jam saja lebih lama hidup kita dari orang lain, kita mendapati amal kita berbeda antara langit dan bumi dengannya. Wallahu’alam.

Istriku...

0 komentar
Isteriku… Terima kasih telah bersedia menemaniku di sepanjang waktu dan di sisa usiaku. Tanpa keluh kesah dan tiada merasa letih dan payah. Sungguh aku tiada bisa memberi apa-apa. Tiada pernah sebaik pahala dari-Nya. Sebab karena-Nyalah kita berpadu sebagai keluarga. Terima kasih atas munajat dan doa-doamu yang terpanjat hangat. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada kita.

Maafkan aku jika tidak bisa memenuhi semuanya, karena kamu tahu, aku bukanlah pemilik semuanya. Mintalah kepada-Nya, karena Dia-lah Allah sang pemilik semuanya. Ibarat makanan empat sehat lima sempurna sebagai standar makanan ideal, bukan berarti kita tidak jadi makan jika tidak tersedia kelima-limanya. Pun demikian dengan keinginan kita menjelmakan secuil taman surga di dunia agar memenuhi kenyataannya. Tidak harus menunggu esok. Tidak harus menunggu sempurna semuanya. Karena kita bisa menikmati setiap kepingnya... setiap detilnya... setiap detiknya.. setiap saat.... setiap waktu.

Semoga kita selalu memiliki waktu untuk merenungkan segala sesuatunya secara matang dan ‘dalam’, membincangkannya di balik dinding tak kasat mata dengan bahasa hati dan cinta karena Allah. Sedikit senyuman, anggukan, atau kebiasaan yang dimengerti dan terpahami dan tidak selalu menyeruak dalam bentuk kalimat yang jelas terucap dan terpahami. Tidak mudah awalnya, karena kita memiliki sejarah hidup yang berbeda, pun pengalaman hidup yang berbeda dan penghayatan hidup yang berbeda. Semuanya menjadi mudah ketika kita bisa bersikap apa adanya, mengetahui apa adanya dan jujur mengakui keterbatasan kita. Sah-sah saja semuanya sepanjang kita lakukan untuk mengharap ridlo-Nya.

Sebagaimana kecintaan kita kepada-Nya yang melampaui segalanya, semoga Allah menjagakan cinta kita, putera putri kita serta kebersamaan kita mendapatkan ridlo-Nya. Amiin.

Jika Aku Jatuh Cinta

0 komentar
Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu ,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah
ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini
Dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

( As-Syahid Syed Qutb )

Kenali Hati

0 komentar

Selain mengurangi kenikmatan yang dirasakan jiwa, kalbu yang sakit juga rentan terhadap berbagai macam gangguan yang mengancam kesehatannya. Alih-alih merasakan nikmat, hidup jadi terasa berat dan menyiksa. Sebab sesungguhnya, kalbu kitalah sarana sejati guna merasakan kenikmatan hidup yang sebenarnya. Tanpa kesehatannya, hidup hanya akan penuh derita dan terasa menyengsarakan.

Tentang kalbu yang sakit, Allah berfirman, “Di dalam hati mereka terdapat penyakit, kemudian Allah menambah penyakit mereka.” QS. Al-Baqarah; 10.

Dia Ta’ala juga berfirman, “…sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya.” QS. Al-Ahzab;32.

Untuk ayat yang pertama maksudnya adalah syak atau keraguan, sedang ayat yang kedua bermakna syahwat untuk berzina. Kalbu disebut sakit jika ia keluar dari keseimbangan alaminya disebabkan oleh adanya sejenis kerusakan di dalamnya. Secara kualitas maupun kuantitas. Karenanya, ia kehilangan fungsi aslinya untuk mengenali kebenaran dan mencintainya. Atau berfungsi tetapi tidak sebagaimana mestinya. Keadaannya bertingkat-tingkat sesuai kadar kerusakan yang ada. Dari bingung memilih kebenaran, ragu untuk meyakininya, sampai menolaknya karena kebodohan dan hawa nafsu.

Man Jadda Wa Jada

0 komentar
Sudah menjadi fitrah insaniyah, bahwa setiap kita sesungguhnya sedang berproses untuk menjadi lebih baik. Yang harus kita lakukan dan usahakan hanyalah bersungguh-sungguh untuk itu. Membuat prioritas hidup dengan hanya melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan.

Berhentilah melihat hasil. Karna kita tidak dituntut untuk itu, selain dari apa yang kita usahakan. Nilai seseorang dihadapan Rabb-nya adalah dari apa yang diusahakannya. Pilihan aktifitas hidup apa yang dibuatnya. Seberapa besar usaha yang dilakukannya. Seberapa banyak bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dikatakan bernilai ketika dia melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat dan menghindarkannya dari keburukan. Melakukan amal kebaikan dan menjauhkan diri dari perilaku tercela. Memilih mentaati Rabb-nya dan menghindarkan diri melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka-Nya. Memperbanyak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan berhenti mengeluhkan apa yang tidak didapatkannya. Apa yang kita peroleh berbanding lurus dengan apa yang kita usahakan. Tidak akan tertukar dengan yang lain dan berpindah kepada yang lain. Yakinlah, bahwa piala hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Dan Anda bisa menjadi salah satunya.

Rabb yang mampu meninggikan langit, menghamparkan bumi dan mencukupi seluruh makhluq yang menghuni dintara keduanya, sungguh maha mampu mencukupi mulut manusia yang hanya beberapa senti ini. Jika kita merasa, Dia tidak mencukupi kebutuhan kita, maka yang sesungguhnya adalah kitalah yang tidak mengetahui apa yang kita butuhkan. Inilah tabiat manusia. Bahkan sekiranya Allah memberinya 2 lembah emas, dia akan memintanya 1 lembah lagi. Begitu seterusnya... “Sesunguhnya Allah mendindingi manusia dan hatinya, dan hanya kepada-Nyalah kita akan dikembalikan”. Wallahu musta’an.

Remind Me (Selamat Jalan Ibu)

0 komentar
Malam itu hujan turun lumayan deras di Solo. Belum lagi beberapa saat kemudian lampu padam. Kring….ponselku berbunyi. Seorang kerabat mengabarkan kalau ibu mengalami kecelakaan. Belum pasti benar ceritanya, telepon ditutup. Aku mencoba menghubungi adik di Padangan yang kebetulan sudah beberapa bulan ini tinggal bersama ortu lagi. Namun yang menggelisahkan. Telepon tidak kunjung diangkat. Begitu pun ketika saya mencoba menghubungi nomor telepon rumah. Beberapa saat kemudian ponsel adik diangkat, tapi yang terdengar hanya gemuruh suara bising kendaraan. Kemudian nada sambung terputus. (Belakangan baru tahu kalo yang bawa ponsel adik, mbah. Dan tidak tahu cara mengoperasikannya).

Malam itu juga aku memutuskan untuk pulang kampung dengan terus berupaya menghubungi nomor ponsel adik. Istri juga memaksa ikut. Neha, putriku yang cantik meski tertidur lelap, kami bawa serta. Alhamdulillah, hujan di luar rumah pun sudah mulai reda. Dengan perut sedikit kroncongan karna belum makan malam, kamipun berangkat. Mamahnya Neha minta mampir makan malam, khawatir kalo2 mabuk di jalan. Bisa diduga, sama sekali selera makan kami hilang meskipun makanan sudah terhidung. Akhirnya sebagian makanan pun kami bungkus, biar nggak mubazir.

Sedikit mengganggu ketika baru saja duduk di atas bus ada pengamen masuk dan itu membuat Neha terbangun. Kelihatan buah hatiku terkaget-kaget. Sepanjang perjalanan kami benar-benar gelisah. Adik mengabarkan kalau Ibu harus dirujuk ke Rumah Sakit di Lamongan. Karna di RS tersebut tidak tersedia alat CT Scan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. Pemeriksaan dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu cedera / kelainan. Yang menyedihkan, Ibu sempat terkatung-katung di ruang UGD, hanya karna adek lupa bawa dompet. Dia terburu-buru, sehingga tidak sempat ambil dompet dan HP. Pakaianpun sekedar menutup aurat. Selain itu tindakan definitif dan organisasi kegawat-daruratan RS terasa bekerja sangat lambat. Secara pribadi saya benar-benar kecewa. Apalagi saya adalah mantan aktivis di lembaga yang ikut membesarkan RS tersebut.

Setibanya di Ngawi seraya menunggu jemputan dari sodara, telepon berdering. Adik iparku mengabarkan, kalo dari hasil CT Scan, ibu mengalami gangguan pada otak, berupa pecahnya pembuluh darah otak sehingga harus dilakukan tindakan operasi pada otak. Diperkirakan biaya yang dibutuhkan sekitar 50 jutaan. Kami pun putuskan untuk mengizinkan tim medis mereka untuk melakukan tindakan operasi.

Tengah malam ibu memasuki ruang operasi. Berbagai persiapan dilakukan oleh dokter. Belakangan masalah muncul, respirator (alat bantu nafas) tidak bisa masuk karena adanya kelainan kelenjar gondok yang diderita ibu. Akhirnya, dokter muda di ruang operasi tidak berani melakukan tindakan operasi. Menurutnya paling tidak harus ada dokter spesialis anestesi dan spesialis syaraf. Menurut pihak RS, kedua dokter spesialis esok hari ada agenda ke Bali. Satu-satunya jalan, ibu harus dirujuk ke RS lain. Hanya 2 RS di Surabaya yang siap untuk menangani kondisi darurat ini. Biaya yang dibutuhkan sekitar 100 jutaan.

Kami benar-benar bingung menyiapkan uang yang menurut kami tidak sedikit itu. Seketika Allah mengingatkan saya dengan firman-Nya : La yukallifullahu nafsan illa wus'aha. Tidaklah Allah membebani suatu kaum di luar batas kemampuannya. Akhirnya kami putuskan membawa ibu ke RS Mitra Keluarga Surabaya. Belum lagi berangkat ke Surabaya, selepas azan subuh, dari ruang UGD, adik mendapati kabar kalau ibu kritis. Selang beberapa menit kemudian, saya mendapat kabar kalau ibu sudah tiada, menghadap ke haribaan Ilahi. Inna Lillahi wa inna ilahi roji'uun.

Sebagai anak, kami berusaha untuk memberikan yang terbaik. Namun Allah dengan kemahakuasaan-Nya, lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, namun selalu mencukupkan segala apa yang kita butuhkan. Angan-angan kita selalu mendahului batasan yang telah digariskan Sang Maha Kuasa. Semoga Allah menerima amal ibadah ibu dan mengampuni dosa-dosa kami semuanya. Amiin.

Selamat Jalan Ibu (2)

0 komentar
Laki-laki itu duduk bersila di depanku dengan kepala tertunduk dan mata yang sayu. Usianya seketika seperti bertambah beberapa tahun dalam sekejap. Di dekatnya seorang wanita mendekati paruh baya dengan tatapan penuh teka teki dan setengahnya kurang bersahabat. Dan di sebelahnya pria bersahaja yang 2 hari sebelumnya pernah menemuiku. Dengan kalimat terbata-bata, seorang pria yang mengaku sebagai kakak dari pria yang duduk bersila di hadapanku bermaksud menerangkan kedatangan mereka ke rumah kami. Dengan ceritanya yang ngalor-ngidul dan setengah dipaksakan mencoba menjelaskan kronologis kejadian yang menyebabkan terjadinya kecelakaan yang menimpa ibu kami, sehingga menemui ajalnya, menghadap ke haribaan Ilahi Robbi.

Setengah menukas, aku katakan : 'Tidak terlalu penting menyoal bagaimana peristiwa itu terjadi atau mengapa itu harus terjadi, namun justru yang harus kita mengerti adalah bagaimana kita menyikapi apa yang sudah terjadi dan apa hikmah yang bisa kita ambil dari musibah yang sudah terjadi ini.' Terhadap apapun yang telah digariskan Allah, baik atau buruk dalam kaca mata kita, mestinya menjadikan kita menjadi lebih baik. Dalam pemahaman dien, menjadi manusia yang meningkat kualitas ketaqwaannya kepada Allah.

Kalau kita ditanya, mana yang lebih baik, menjadi orang yang kaya atau miskin? Menjadi orang yang selalu didera penyakit atau sehat terus menerus. Memiliki banyak anak atau tidak sama sekali. Dalam situasi apapun, mana yang lebih membuat kita menjadi lebih bertaqwa. Maka itulah yang paling pas atas kita. Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itu baik buat kita. Atau boleh jadi kita menyukai sesuatu, padahal itu buruk akibatnya buat kita.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Sebagaimana kita tidak akan pernah bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Yang mesti kita lakukan adalah menjalani setiap pilihan secara sadar dan berdamai dengan apapun yang terjadi. Semoga setiap keburukan bermakna menggugurkan dosa-dosa kita. Dan setiap kebaikan berbilang pahala di sisi-Nya. Amin.

Alhamdulillah, beberapa hari berikutnya, aku mendengar kabar kalau bapak dan anak yang menabrak ibu sudah mulai mau mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Yayasan yang dikelola ikhwan-ikhwan.

Pohon bambu yang merasakan hidup enak dalam rumpunanya bahkan merelakan dirinya ditebang dan merasakan sakit dipotong potong. Namun pada akhirnya mengerti setelah dia tahu bahwa dirinya dipergunakan untuk saluran air bagi masyarakat. Mungkin juga ujian hidup yang kita alami saat ini sedang dipersiapkan untuk memberi jalan kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain.

Selamat jalan Ibu, terima kasih Ibu untuk hari-hari terindah dan pengajaran hidup yang luar biasa. Semoga Allah memberimu tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin.