10/25/2016 03:53:00 PM
0


“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228)

Tidak sedikit ibu-ibu yang mengeluhkan suaminya yang kurang gigih bekerja sehingga terkesan ogah memberi nafkah. Terpaksa ibu-ibu ini bersusah-payah buat cari-cari tambah. Bahkan ada yang ngasih suami mobil, modal dan seterusnya sampai ludes, pengakuan seorang Ibu. Bisa memang seperti pengakuan ibu-ibu itu, bisa juga terlalu besarnya tuntutan para istri, Allahu’alam. Tapi yang pasti, para suami harus sadar diri kalau dia telah mengambil tanggung jawab yang tidak mudah dari seorang ayah (sang istri), yakni memberi nafkah. Sedangkan sang istri telah menggantungkan harapannya kepadanya.

Kalau diniati ibadah sebenarnya mudah, mengingat besarnya pahala yang dijanjikan Allah. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

Demikian halnya soal “pelayanan”, setan selalu gigih menggoda agar pasutri enggan berhubungan biologis. Sehingga ada saja suami yang mudah tergiur godaan jalanan. Atau para istri yang bersungut setiapkali mendapat ‘ajakan’ suami, yang capeklah.. yang repotlah.. dst. Setan berusaha membujuknya agar malas ‘berhubungan’. Seorang ulama mengatakan, bukankan besarnya pahala (dan maslahatnya), ketika diletakkan di tempat yang halal setara dengan besarnya dosa (dan madharat yang ditimbulkan) jika diletakkan di tempat yang haram ? Sebagaimana diriwayatkan Abu Dzar radhiyallahuanhu disebutkan,

“.... Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya), apakah akan mendapatkan pahala? beliau menjawab:  “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” (HR Muslim no. 1674)

Wallahu’alam

0 komentar:

Plan Your Work and Work Your Plan

Plan Your Work and Work Your Plan